Kamis, 04 Juni 2009

Sakramentologi

Pengertian Sakramen

Kata “sakramen” berasal dari kata sacramentum (Lat.) yang digunakan untuk menerjemahkan kata musthrion (Yun.)[1] ke dalam teks Vulgata (Ef. 5:32; Kol. 1:27; 1Tim. 3:16; Why. 1:20; 17:7)[2]. Kata sacramentum pertama kali digunakan dalam literatur gereja oleh Tertullianus[3] yang merujuk pada banyak elemen dalam gereja (termasuk trinitas). Tertullianus juga menggunakan istilah ini untuk menyebut soal baptisan dan perjamuan kudus (eukaristi).

Awalnya, kata sacramentum merupakan istilah teknis dalam masyarakat Romawi yang berarti sumpah setia tentara Romawi kepada sang kaisar. Istilah ini kemudian berkembang menjadi istilah umum untuk sumpah apa saja dan kemudian diadopsi ke dalam lembaga keagamaan dengan makna “janji atau tanda.”[4]

Secara umum (bisa dikatakan sebagai definisi Kristen, baik Katolik maupun Protestan), “sakramen” didefinisikan sebagai “tanda lahiriah yang nampak, ditetapkan oleh Kristus, untuk menyatakan dan menjanjikan suatu berkat rohani.” Definisi ini dipengaruhi oleh pemikiran Augustinus (354-430) yang menyebut sakramen sebagai sacrum signum (tanda suci) atau verbum visibile (firman yang kelihatan).[5]

Kontroversi mengenai Sakramen

Kontroversi mengenai sakramen terutama terfokus pada jumlah sakramen juga lebih spesifik pada persoalan baptisan. Pada masa gereja mula-mula, hanya dikenal dua upacara khusus dalam gereja di samping Paskah[6], yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Pada tahun 150 M, ada suatu upacara penting lainnya yang disebut “rekonsiliasi” (ditemukan dalam tulisan Hermas, 140-150). Tahun 200 M juga ditambah dengan “Urapan Minyak,” yang oleh Hippolytus (+ 215 M) lebih dikhususkan bagi orang sakit.

Pada tahun 400 M pernikahan mulai digagas untuk masuk dalam bagian sakramen, namun yang benar-benar menerima “pernikahan” sebagai bagian dari sakramen adalah Petrus Lombardus (1100-1160) pada tahun 1150. Sementara pada tahun 1000 juga muncul upacara “konfirmasi” di kalangan Gereja Barat.

Abad ke-11, gereja mengenal enam sakramen: baptisan, konfirmasi (di gereja Barat), eukaristi, penitentia (pengampunan dosa), pengurapan, dan ordinasi (pentahbisan). Baptisan dikaitkan dengan dosa asal, konfirmasi sebagai bentuk kesediaan menjadi laskar Kristus (Hinchmar, bishop Rheims), eukaristi dirunut kembali ke Perjamuan Akhir, dan ordinasi dilakukan bukan saja untuk imam dan diaken, tapi juga sub-diakonat dan fungsi-fungsi di bawahnya. Sementara, pengurapan, sejak reformasi Karolingian dibatasi untuk orang sakit dan orang yang meninggal sebagai tanda pengampunan dosa.

Pada masa Gregorius VII, jumlah sakramen menjadi lima, kemudian menjadi dua belas pada periode Petrus Damiani. Pada abad ke-12, Hugo dari Saint-Victor menyebut tiga puluh sakramen, sedangkan Gregorius dari Bergamo dan Petrus Lombardus pada periode yang sama menyebut tujuh sakramen (baptisan, eukaristi, konfirmasi, ordinasi, pernikahan, penitentia, dan pengurapan), yang kemudian diadopsi oleh Thomas Aquinas dan disahkan dalam Konsili Trente (1545-1563). Konsili Trente juga mengukuhkan doktrin trans-substansia dan ex opere operato (sakramen mencapai tujuannya jika pelaksanaannya benar).

Reformasi mula-mula (abad ke-16) membatasi sakramen menjadi tiga: baptisan, perjamuan kudus, dan pengampunan dosa, yang kemudian menjadi dua: baptisan dan perjamuan kudus. Reformasi juga menolak ex opere operato serta doktrin trans-substansia[7]. Menurut gereja reformasi, sakramen harus dipandang sebagai “ritus” yang berakar dalam “perintah Allah” (mandatum) dan disertai “janji.” Dengan kata lain, sakramen adalah ritus yang terjadi atas “perintah dan perjanjian” Allah.

Konfesi Augsburg IX menetapkan bahwa baptisan anak itu perlu (menentang pandangan Anabaptis)[8]. Konfesi Augsburg X menegaskan bahwa tubuh dan darah Kristus hadir dalam perjamuan kudus, sementara Konfesi Augsburg XIII menegaskan bahwa sakramen bukan hanya tanda kenal lahiriah, tapi juga “pertanda dan kesaksian akan kehendak Allah mengenai kita” (keduanya menentang Zwingli).

Rumusan Konkord VII, 5 dst menentang pendapat Calvinis yang mengatakan bahwa Kristus hadir hanya dengan kuasa (virtus) dan Roh (spiritus), sementara Rumusan Konkord VII, 22 dst dengan tegas menentang doktrin trans-substansia. Gereja Lutheran, melalui Katekismus Heidelberg menentang doktrin Katolik yang mengatakan bahwa sakramen lebih tinggi dari firman. Masih banyak kontroversi soal sakramen, khususnya menyangkut jumlah sakramen, baptisan anak, dan cara baptisan.

Baptisan dan Perjamuan Kudus

(Gereja) Kemah Abraham mengikuti pemikiran reformasi hanya menerima dua sakramen, yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Baptisan diasosiasikan dengan tradisi PL, yaitu hukum pembasuhan Mosaik (Kel. 30:17-21; Im. 11:25).[9] Perjamuan Kudus juga diasosiakan dengan tradisi PL, yaitu perjamuan Paskah (Kel. 12;
Mrk. 14:1,2,12-16; Yoh. 13:21-30).[10] Dalam literatur gereja mula-mula, banyak naskah yang mendukung penyelenggaraan baptisan dan perjamuan kudus sebagai amanat Kristus, misalnya dalam kitab Didakhe, Surat Ignatius dari Antiokhia, Apology (Yustinus Martir), Epitaph (Abersius), dan Tradisi Rasuli (Hyppolitus), meskipun dokumen-dokumen itu tidak menggunakan istilah “sakramen.”

Baptisan merupakan tanda mengikatkan diri kepada Kristus (Kis. 19:5), identifikasi dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitannya menuju hidup baru (Rm. 6:3-5), menjadi anggota tubuh Kristus (1Kor. 12:13), dan berkat diterima melalui iman (Rm. 6:8-11). Maknanya sama dengan tanda pertobatan, pengampunan dosa, dan pembasuhan (Ibr. 10:22). Dengan demikian, baptisan dikaitkan erat dengan penyatuan dengan Kristus (epi to onwmati iesou xristou; Kis. 2:38) yang juga menyatukan kita dengan Kristus dalam karya Roh Kudus (Rm. 6:3-6).

Perjamuan kudus dikaitkan dengan pembebasan dari dosa sebagaimana Paskah dalam tradisi Yahudi yang memiliki simbol pembebasan dari tirani Mesir. Seorang yang mengambil bagian dalam Paskah ini harus menganggap diri sebagai seorang yang dibebaskan dari tirani Mesir yang dialaminya dulu (Mishna Pesakhim 10.5).
Roti merupakan simbol “roti penderitaan” yang dimakan leluhurnya (Ul. 16:3 menurut tafsiran Hagadah) sedangkan meja di lantai atas merupakan simbol umat perjanjian baru (Yer. 31:31, dst).

Bagi gereja, roti menjadi simbol tubuh Kristus dan anggur sebagai simbol darah Kristus. Perjamuan kudus juga menjadi simbol perjanjian baru (Luk. 22:20). Perjamuan Kudus tidak saja menjadi momen peringatan atas via dolorosa Kristus, melainkan juga sebagai simbol pembaharuan perjanjian Allah dengan manusia


[1] mustherion bagi masyarakat Yunani merupakan istilah keagamaan yang ditandai dengan menutup mulut. Karena itu, kata ini sering juga diartikan “rahasia” (misalnya oleh Plato)

[2] Namun, kata musthrion lebih lazim diterjemahkan dengan kata musterium dalam teks Vulgata lainnya

[3] Tertullianus adalah seorang teolog Kristen yang pertama kali menggunakan istilah-istilah gerejawi dalam bahasa Latin, termasuk kata trinitas, substantia, dan personae

[4] Sacramentum juga merupakan istilah untuk ikrar atau jaminan yang diberikan kepada “orang yang dipercaya mampu menjaga rahasia” oleh pihak-pihak yang terlibat dalam tuntutan hukum. Ikrar ini dikaitkan dengan maksud suci

[5] Augustinus dianggap sebagai teolog gereja yang pertama kali memiliki konsep yang jelas tentang teologi sakramental. Ia hanya menyebutkan dua bentuk sakramen, yaitu baptisan dan perjamuan kudus (eukaristi)

[6] Paskah masih menjadi perayaan khusus gereja mula-mula melanjutkan tradisi para Rasul yang merayakan Paskah bersama Yesus menjelang via dolorosa

[7] Doktrin trans-substansia, yang menyatakan bahwa roti dan anggur betul-betul diubah menjadi tubuh dan darah Kristus dalam eukaristis, dikukuhkan dalam Konsili Lateran IV (1215)

[8] Baptisan anak juga disebutkan oleh Irenaeus dan dianggap sebagai bukti oleh gereja-gereja reformasi

[9] Upacara pembasuhan dalam agama Yahudi sangat banyak, seperti pembasuhan tangan sebelum makan, pembasuhan masuk ke Bait Allah, dan baptisan proselit melalui upacara Mikweh (Yoh. 3:22-26; Luk. 11:38)

[10] Dalam literatur Yahudi, penafsiran tentang Paskah terdapat dalam Hagada Paskah juga dalam Mishna Pesakhim. Ditandai dengan bersandar pada meja (simbol pangkuan Abraham), pembagian dana orang miskin (Yoh. 13:29), dan penggunaan sepotong roti yang dicelupkan dalam kuah kharoset (simbol kepahitan perbudakan di Mesir). Perbedaan perhitungan Paskah Farisi (Sinoptik) dan Saduki dianggap sebagai penyebab perbedaan pandangan dalam Injil Sinoptik dan Injil Yohanes tentang perjamuan akhir dan kematian Yesus. Hal ini dibuktikan dengan Naskah Laut Mati. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Lencana Facebook