Rabu, 12 Januari 2011
Musa dan YHWH
Minggu, 12 Desember 2010
TUHAN Menyesal?

Dalam Kejadian 6:6 terdapat kalimat "maka menyesallah TUHAN" dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Kalimat ini tentulah kalimat anthropomorfis.
Penggunaan kalimat-kalimat anthropomorfis sangatlah lazim dalam Alkitab, misalnya "TUHAN berjalan," "TUHAN duduk," "TUHAN sedih," dan banyak lagi. Kalimat-kalimat anthropomorfis menggambarkan seolah-olah TUHAN seperti manusia agar manusia lebih mudah memahaminya. Pada dasarnya, TUHAN tidak bisa digambarkan atau diserupakan dengan apapun juga, karena DIA melampaui segala batas logika dan pemikiran manusia.
Tapi, betulkah yang dimaksud pada Kejadian 6:6 itu "TUHAN menyesal"?
Kamis, 04 Juni 2009
Nama YHWH
Asal nama YHWH merupakan polemik yang cukup panjang di kalangan para teolog. Von Bohlen dalam bukunya berjudul Genesis mengatakan bahwa nama Yahweh diadopsi oleh orang Yahudi dari bangsa Kanaan. Pendapat von Bohlen ini didukung oleh Von der Alm (Theol. Briefe, I, 1862, hlm. 524-527), Colenso (The Pentateuch, V, 1865, hlm. 269-284), dan Goldziher (Der Mythus bei den Hebräern, 1867, hlm. 327). Namun, kemudian ditentang oleh Kuenen (“De Godsdienst van Israel”, I, Haarlem, 1869, hlm. 379-401) dan Baudissin (Studien, I, hlm. 213-218). Alasannya sangat sederhana bahwa mustahil nama ilah sebuah bangsa yang menjadi musuh bebuyutan kemudian diadopsi menjadi nama yang sangat mendominasi Yudaisme kemudian.
Vatke (Die Religion des Alten Test., 1835, hlm. 672) dan J.G. Müller (Die Semiten in ihrem Verhältniss zu Chamiten und Japhetiten, 1872, hlm. 163) kemudian memberi pendapat yang berbeda. Keduanya berpendapat bahwa nama Yahweh berasal dari Indo-Eropa (Dyaus). Pendapat ini tidak dapat diterima oleh banyak pakar dan dianggap merupakan suatu bentuk pemaksaan istilah.
Pendapat yang kemudian banyak dipegang adalah bahwa nama Yahweh berasal dari Mesir. Pendapat ini banyak didukung oleh para sarjana sebab Musa sendiri merupakan seorang pemimpin Ibrani yang tumbuh dan dididik di Mesir. Namun, argumen-argumen yang diberikan masih banyak diragukan:
· Röth (Die Aegypt. und die Zoroastr. Glaubenslehre, 1846, hlm. 175) mengatakan bahwa nama itu berakar dari nama dewa bulan Mesir Ih atau Ioh.
Pierret (“Vocabul. Hiérogl.”, 1875, hlm. 44) menolak argumen ini dengan mengatakan bahwa tidak ada hubungannya antara dewa bulan Mesir dengan Yahweh Ibrani.
· Plutarch (De Iside, 9) mencoba membuktikan dengan ditemukannya sebuah patung Athene (Neith) di Sais dimana terdapat sebuah inskripsi bertuliskan “Aku adalah segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan ada.” Argumen ini pun dibantah oleh Tholuck (Vermischte Schriften, I, hlm. 189-205). Menurut Tholuck, arti dari inskripsi tersebut berbeda dengan arti nama Yahweh.
· Kalimat kuno Mesir, “nuk pa nuk” juga dijadikan argumen karena memiliki kemiripan dengan kalimat “ehye asher ehye” dalam Bahasa Ibrani. Namun, argumen ini juga dianggap lemah sebab menurut Le Page Renouf (Hibbert Lectures for 1879, hlm. 244), istilah nuk pa nuk sebenarnya berarti “Ini adalah aku yang...”
Pendapat lain yang juga dibantah adalah pendapat bahwa nama YHWH berasal dari Kaldea atau Akkadian:
· Menurut Delitzsch (“Wo lag das Paradies”, 1881, hlm. 158-164), Yahweh dikatakan merupakan nama penting dewa nasional. Nama dewa itu adalah Yahu atau Yah, dimana huruf i menjadi elemen penting pada nama itu. Pendapat ini disangkal dengan alasan bahwa Yah hanyalah sebuah nama puitis bagi Yahweh dalam alkitab, sementara Yahu tidak pernah muncul dalam Alkitab. Kata Yahu justru muncul dalam inskripsi Mesa (baris 18) yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 SM.
· Yahu dan Yah sangat dikenal di luar Israel, sehingga ada dugaan bahwa nama Yahweh diadopsi dari kedua nama itu. Menurut Schrader (“Bibl. Bl.”, II, p. 42, 56), Sargon (“Cylinder”, xxv) dan Keil (“Fastes”, I. 33), variasi nama Raja Hammath menunjukkan bahwa Ilu sama dengan Yau, dan bahwa Yau adalah nama dewa. Pembuktian ini sulit diterima sebab nama-nama asing yang mengandung nama dewa itu sangat diragukan, apalagi menggunakan nama dewa dianggap pelecehan bagi kebanyakan bangsa asing.
· Delitzsch (“Lesestücke”, 3rd ed., 1885, hlm. 42) dan Syllab (A, col. I, 13-16) kemudian mengatakan bahwa di antara masyarakat Babilonia pra-Semitik, i merupakan singkatan dari Ilu, dewa tertinggi. Pada periode Assyria menjadi Yau. Hommel (Altisrael. Ueberlieferung, 1897, hlm. 144, 225) sangat yakin dengan argumen ini dan mengatakan bahwa Yau adalah dewa yang mewakili ideografis (ilu) A-a, tapi diucapkan Malik, yang merupakan bentuk ekspresi yang seharusnya dibaca Ai atau Ia (Ya). Para bapak leluhur mengembangkan nama ini dan Musa meminjam kemudian mentransformasikan nama itu menjadi Yahweh. Pendapat ini dibantah oleh Lagrange (Religion semitique, 1905, hlm. 100 dyb). Ia menggarisbawahi bahwa orang-orang Yahudi tidak percaya bahwa mereka menyerahkan anaknya kepada Yahweh sama seperti menyerahkan kepada Malik. Yer. 32:35 dan Sof. 1:5 dengan tegas membedakan antara Malik dengan Allah Ibrani.
Pandangan bahwa nama YHWH murni berasal dari tradisi Ibrani merupakan pandangan yang dianggap paling memuaskan. Para ahli, seperti Nicholas Lyra, Tostatus, Cajetan, Bonfrère, dsb, menjadikan Kel. 6:2-8 sebagai dasar pemikiran mereka. Menurut mereka, nama YHWH pertama kali digunakan oleh Musa di Gunung Horeb.
Pendapat ini diragukan oleh Robion (“la Science cathol.”, 1888, hlm. 618-24), Delattre, van Kasteren, dan Robert (“Revue biblique”, 1894, pp. 161-81). Menurut mereka, frase “belum menyatakan diri” dalam Kel. 6:3 bukan berarti bahwa nama itu belum digunakan. Maksud ayat tersebut bahwa YHWH belum menyatakan makna dari nama itu kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Kepada Musalah makna nama itu dinyatakan.
Ada dugaan bahwa nama YHWH telah muncul jauh sebelum Musa namun dalam bentuk yang berbeda. Di Gunung Horeblah bentuk akuratnya menjadi jelas.
· Kej. 4:26 mengatakan bahwa manusia mulai memanggil nama YHWH pada periode Enos.
· Yokhebed, ibu Musa, menggunakan singkatan Yo dari YHWH.
· Ada 163 nama diri yang menggunakan elemen nama YHWH dalam komposisi nama mereka, 48 menggunakan yeho atau yo di awal nama, sementara 115 menggunakan yahu atau yah di akhir nama mereka, sedangkan bentuk Yahweh tidak ditemukan sama sekali. Karena itu, ada dugaan bahwa bentuk Yeho, Yo, Yahu, dan Yah adalah nama ilahi yang pernah eksis di kalangan Israel sebelum bentuk YHWH itu muncul.
Kel. 6:2-8 kemungkinan merupakan jawaban Allah atas pergumulan Musa dalam Kel. 3:13. Persoalannya, dalam Kel. 3:14 dan 15, Allah memperkenalkan diri dengan tiga nama penting untuk satu pertanyaan Musa “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?”:
1. `HYH `SHR `HYH (אהיה אשׁר אהיה) diterjemahkan “AKU ADALAH AKU” (ehye asher ehye) merupakan jawaban Allah pertama ketika Musa menanyakan nama-Nya. Bentuk kalimat ini tidaklah sempurna, secara harafiah berarti “ADA/BERADA/ADALAH (ehye) YANG/YAITU/SEBAB (asher) ADA/BERADA/ADALAH (ehye).” Hanya beberapa ahli yang mengakui bahwa itu adalah nama Allah yang sebenarnya.
2. `HYH (אהיה) diterjemahkan “AKULAH AKU” (ehye), bentuknya sama dengan yang pertama, semestinya berarti “ADA/BERADA/ADALAH.” Kata `HYH muncul sebanyak 1961 kali dalam PL dan diterjemahkan “AKU ADALAH” hanya dalam Kel. 3:14 ini, karenanya terkesan dipaksakan untuk diterjemahkan.
3. YHWH (יהוה) muncul sebanyak 5000 kali dalam PL dan tidak pernah diterjemahkan. Tradisi Ibrani menolak untuk menyebutkan nama suci ini, sehingga ketika Bahasa Ibrani tidak lagi menjadi lingua franca, cara penyebutan YHWH pun dilupakan. Kaum Masoret pernah mencoba memasukkan vokal Adonai ke dalam YHWH sehingga muncul penyebutan Yahowah, namun model ini tidak banyak digunakan. Bapak-bapak gereja sendiri berbeda pendapat mengenai penyebutan tersebut, setidaknya ada sebelas bentuk yang bisa dikemukakan:
- Diodorus Siculus menulis Yao (I, 94);
- Irenaeus (“Adv. Haer.”, II, xxxv, 3, dalam P. G., VII, kol. 840), Yaoth;
- Kelompok Valentinian (Ir., “Adv. Haer.”, I, iv, 1, dalam P.G., VII, kol. 481), Yao;
- Clement dari Aleksandria (“Strom.”, V, 6, dalam P.G., IX, kol. 60), Yaou;
- Origenes (“in Joh.”, II, 1, dalam P.G., XIV, kol. 105), Yao;
- Porfyrus (Eus., “Praep. evang”, I, ix, dalam P.G., XXI, kol. 72), Yeuo;
- Epifanius (“Adv. Haer.”, I, iii, 40, dalam P.G., XLI, kol. 685), Ya atau Yabe;
- Pseudo-Yerome (“Breviarium in Pss.”, dalam P.L., XXVI, 828), Yaho;
- Kaum Samaritan (Theodoret, dalam “Ex. quaest.”, xv, dalam P. G., LXXX, kol. 244), Yabe;
- James dari Edessa (band. Lamy, “La science catholique”, 1891, hlm. 196), Yehyeh;
- Yerome (“Ep. xxv ad Marcell.”, dalam P. L., XXII, kol. 429) menolak mereka yang menulis nama ilahi dengan penulisan II I II I.
Kaum Samaritan yang menyebut Yabe dianggap mendekati keasliannya sehingga vokalnya kemudian diambil dan muncullah Yahweh yang banyak digunakan sampai sekarang.
Upaya melacak kembali penyebutan nama YHWH merupakan upaya yang sudah lama berkembang baik di kalangan Yahudi maupun di kalangan Kristen. Banyak sarjana tidak lagi mempersoalkan hal ini dan lebih memilih untuk bertahan dengan sebutan Yahweh. Sebagian lagi menggunakan YHWH tanpa memasukkan vokal. Umumnya justru mengikuti tradisi Yahudi yang tidak menyebutkan nama itu bahkan tidak menyalinnya ke dalam bentuk lain (tetap mempertahankannya dalam teks Ibrani).
Para teolog kontemporer justru memilih untuk melihat esensi nama itu tanpa mempersoalkan penyebutan dan penulisannya. Menurut Robion, Delattre, van Kasteren, dan Robert makna penting di balik nama YHWH itu dapat dilihat dalam Kel. 6:2-8, dimana Allah dengan tegas menyatakan esensi dari nama itu. Menurut mereka, pada zaman para leluhur, Allah telah menyatakan diri sebagai Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang Maha Tinggi, Elohim Tseva’oth (Allah Bala Tentara/Allah Yang Perkasa), maka kepada Musa, Allah menyatakan diri sebagai Allah Perjanjian, Allah yang senantiasa memegang janji-Nya, baik janji kepada para leluhur (Abraham, Ishak, dan Yakub), janji kepada Musa, maupun janji kepada keturunannya atau janji kepada umat-Nya.
Furst (“Vet. Test. Concordantiae”, Leipzig, 1840) melacak dari akar kalimat `HYH `SHR `HYH (ehye asher ehye) dan menyebut bentuk ini sebagai forma participialis imperfectiva, artinya YHWH adalah bentuk imperfek dari kata kerja “ada” dalam Bahasa Ibrani yang secara esensi menyatakan YHWH sebagai Sang “Being”. Kaum skolastik mengartikan YHWH dalam makna yang lebih dalam dengan mengatakan bahwa YHWH hanya bisa didefinisikan dengan being, murni dan sederhana, tidak lebih dan tidak kurang; bukan being abstrak yang lazim bagi semuanya, dan karakteristik ketiadaan dalam partikular, melainkan being absolut, samudera segala being yang substansial, bebas dari segala kausa (penyebab), tidak mungkin berubah, melampaui segala batas waktu, sebab Ia tidak berbatas: “Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir,... yang Ada, telah Ada, dan akan Ada, Yang Maha Kuasa” [(Apoc., i, 8). band. St. Thomas, I, qu. xiii, a. 14; Franzelin, “De Deo Uno” (3rd ed., 1883, thesis XXIII, pp. 279-86)].
Abraham dan Monoteisme
Abraham merupakan seorang figur yang kontroversial. Taurat tidak begitu rinci menjelaskan mengenai kesiapaan Abraham serta pandangannya tentang monoteisme. Keberimanan Abraham akan Tuhan Yang Satu itu lebih dititikberatkan pada episode pengujian iman Abraham.[1] Dari peristiwa inilah kita menemukan satu poin penting bahwa Abraham yakin betul akan eksistensi ilahi, sehingga peristiwa paling pahit dalam hidupnya itu pun ia deskripsikan sebagai bentuk kesetiaannya kepada yang ilahi itu.[2]
Episode itu menarik bagi penulis Taurat, sehingga cukup banyak dikutip kemudian dan menjadi acuan penting bagi mereka untuk meyakinkan pembacanya bahwa Tuhan itu ada. Oleh mereka, Tuhan yang begitu melekat di dalam benak Abraham itu pun kemudian ditafsirkan sebagai YHWH yang diperkenalkan oleh Musa. Pada akhirnya, kita hanya punya tafsir atas hidup Abraham, bukan sebuah otobiografi atau biografi yang ditulis oleh orang yang sezaman dengannya. Sebuah kelemahan akademis yang “terpaksa” diyakini sebagai kebenaran iman. Ibaratnya kita membaca sebuah kisah tentang Elvis Presley yang ditulis oleh si Cecep, penggemar beratnya, yang justru baru lahir di tahun 1980-an ketika Elvis Presley menjadi legenda dalam dunia musik.
Itulah sebabnya Philo Judæus, seorang ahli sejarah dan filsafat Yahudi yang hidup menjelang abad pertama hingga periode Yesus, menganggap bahwa Abraham bukanlah sosok historis. Abraham[3] dan Terah, ayahnya, adalah sosok alegoris. Mereka hanyalah kiasan semata yang diceritakan oleh para penulis Taurat untuk menjelaskan makna yang lebih dalam. Menurut Philo, akar kata “Terah” berarti “menjelajahi” atau “menyelidiki.” Demikian juga Haran bukanlah nama tempat, tetapi berarti “penggalian” atau “persepsi pribadi.” Terah dan Abram bukanlah sosok pribadi yang historis, tetapi mereka dipersonifikasi untuk menjelaskan bagaimana cara menggapai Tuhan.[4]
Hal ini bukan berarti bahwa tidak pernah ada seorang manusia yang bernama Abraham dalam silsilah Israel kuno. Memang tidak banyak bukti historis untuk membuktikan keberadaan Abraham secara jelas, apalagi ia adalah seorang pengembara.
Menurut cerita kelima Taurat Musa, Abraham adalah seorang Mesopotamia yang kemudian keluar dari sana menuju ke Kanaan. Pengembaraan dari Mesopotamia ke Kanaan merupakan pengembaraan panjang yang mengakibatkan Abraham bersentuhan dengan berbagai peradaban yang ada di sekitar Mesopotamia dan Kanaan.
Perubahan nama Abram ke Abraham sendiri mendapat sentuhan teologis dalam cerita Taurat. Perubahan itu dikatakan berasal dari YHWH, dan penambahan huruf He pada nama Abram menjadi Abraham adalah karena huruf He adalah huruf yang terkandung dalam nama YHWH itu sendiri.[5]
Th. C. Vriezen, seorang ahli Perjanjian Lama, justru menemukan adanya lebih dari satu oknum Abraham. Ia menulis:
Kalau tradisi itu diselidiki dengan saksama, agaknya tradisi ini mengandung lebih dari satu oknum Abraham. Di satu pihak, dia disebut Abram (satu nama yang berakar dari bahasa Semit Timur Laut), sedangkan di pihak lain, dia disebut Abraham (satu bentuk nama yang agaknya berasal dari bahasa Arab). Di satu pihak, Abram merupakan oknum yang mengembara antara Sikhem dengan Hebron, sedangkan di pihak lain, dia adalah orang nomad yang menduduki daerah Negeb, yang dalam hubungan-hubungannya dengan kaum Filistea dan kaum Ismaili menjadi unsur yang menonjol dalam cerita. Bahkan, masih dapat ditunjuk suatu oknum Abraham jenis ketiga, yaitu gambaran pahlawan perang dari Hebron (Kejadian 14). Dalam Kejadian 14 itu ia disebut “orang Ibrani” (ay. 13), sehingga gelar itu mungkin mengandung tradisi kuno tentang golongan Habiru. Itu berarti bahwa ada tiga bagian negeri yang masing-masing mempunyai versi sendiri tentang oknum Abraham.[6]
Jadi, seberapa faktualnya sosok Abraham merupakan sebuah pertanyaan historis-teologis yang perlu terus digali. Namun, penggalian tersebut bukanlah penggalian singkat yang dapat dituntaskan dalam makalah ini. Karena itu, saya lebih cenderung membandingkan cerita Taurat dan literatur sejarah yang ada.
Menurut cerita Taurat, Abraham memulai pengembaraannya dari Mesopotamia Utara, sebuah wilayah yang sudah sangat maju pada zaman itu.[7] Dari situ ia keluar dan mengembara melalui beberapa wilayah Mesopotamia lainnya.[8] Secara historis, penduduk asli Mesopotamia mengenal banyak Tuhan (politeistik).[9] Bagi mereka, Tuhan dipersonifikasi dalam fenomena-fenomena alam, seperti Anu (langit) atau Hursag (kaki bukit). Hal ini tentu saja tidak lepas dari banyaknya fenomena alam di sekitar daerah Mesopotamia, sehingga penduduknya lebih akrab dengan fenomena-fenomena tersebut. Halilintar yang mendominasi dataran rendah Mesopotamia dianggap sebagai ksatria, kilat sebagai tombaknya dan guntur sebagai kereta perangnya. Bumi adalah ibu, yang melahirkan tumbuh-tumbuhan setiap tahunnya.[10]
Warisan Mesopotamia yang sangat terkenal adalah syair Enuma Elish dan Gilgamesh, dimana di dalamnya dapat dijumpai cerita penciptaan dan pemeliharaan para tuhan terhadap manusia dan alam semesta.[11]
Isi kedua syair tersebut persis sama dengan isi kitab Kejadian dalam Taurat. Penciptaan disebutkan berlangsung selama tujuh hari dengan urutan yang persis sama dengan urutan dalam kitab Kejadian.[12] Perbedaan dasariahnya hanyalah pada penekanannya soal Tuhan. Jika Enuma Elish lebih menekankan pada konflik antar Tuhan dalam semangat politeistiknya, maka Kejadian menekankan pada kemahakuasaan YHWH sebagai satu-satunya Tuhan yang menciptakan sekaligus memelihara ciptaan-Nya itu. Meski demikian, kisah dalam kitab Kejadian sulit lepas dari pengaruh mitos politeistik, misalnya penggunaan kata “Kami” yang merujuk kepada “Tuhan.”[13]
Pengaruh peradaban Mesopotamia terhadap teks Taurat juga nampak jelas misalnya dalam penggambaran akan Taman Eden. Dua nama sungai yang disebutkan, yaitu Tigris dan Efrat merupakan dua sungai yang mengapit daerah Mesopotamia,[14] sehingga jika kisah Taman Eden itu merupakan cerita yang turun-temurun dari Abraham, maka dapat dipastikan bahwa Taman Eden hanyalah sebuah gambaran Abraham tentang negeri ideal yang ia sendiri sudah pernah melihatnya. Cerita itu muncul ketika Abraham dalam pengembaraannya yang telah jauh dari Mesopotamia dan berkisah tentang negeri dimana ia pernah tinggal. Semacam nostalgia seorang ayah kepada anak-anaknya atau seorang kakek kepada cucu-cucunya.[15]
Melihat besarnya pengaruh Mesopotamia terhadap teks Taurat, maka pengaruh terhadap konsep ketuhanan pun dapat saja terjadi. Ini tentu saja jika kita berasumsi bahwa Abraham adalah tokoh nyata yang pernah hidup dan telah mewariskan cerita-cerita yang kemudian dirangkum dalam Taurat Musa. Dengan demikian, konsep monoteisme Abraham lebih sebagai bentuk pemberontakannya terhadap politeistik atau monoteistik Mesopotamia.[16] Awal pemberontakannya yaitu ketika ia harus meninggalkan negerinya sendiri menuju ke suatu tempat yang ia tidak ketahui.
Bagi para penulis Taurat, petualangan Abraham ini merupakan catatan historis tersendiri dalam pembentukan konsep ketuhanan Israel kuno. Ketika Abraham menyeberangi sungai Efrat dan tiba di Kanaan, maka saat itu ia menjadi seorang Ibrani.[17]
Leo Trepp mengatakan bahwa keputusan Abraham untuk meninggalkan negerinya lebih disebabkan karena ia sendiri telah mengembangkan ide agama dan sosial bagi lingkungannya (atau lebih tepat keluarganya). Bagi Trepp, keputusan Abraham tersebut diambil tidak lepas dari pengaruh pemahamannya akan ide-ide yang lahir dalam kultur Mesopotamia. Ide-ide itulah yang ia kembangkan kemudian, yang ia mulai dari keluarganya sendiri dengan mengajak mereka melakukan petualangan ke negeri asing.[18] Bagi Trepp, petualangan Abraham ini telah menjadikan sebuah mitologi menjadi agama.[19]
Dari Abrahamlah kemudian dikenal konsep “Allah Abraham” (Elohe Avraham) yang kemudian diwariskan turun-temurun kepada anak cucunya.[20] Di zaman Musa, konsep Tuhannya Abraham diproklamasikan sebagai “Allah Abraham, Ishak, dan Yakub,” Tuhan itulah yang juga membimbing Israel keluar dari Mesir.[21]
Ketika ia tiba di Kanaan, maka peradaban Kanaan pun ikut mempengaruhinya. Mengenai sapaan Abraham terhadap Tuhannya dapat dilacak dari nama-nama orang atau tempat yang disebutkan Alkitab, baik sebelum, pada masa, maupun sesudah Abraham. Kata “El” adalah kata yang paling lazim digunakan pada zaman Abraham. Apalagi, kata “El” (dan juga “Il”) merupakan sebutan bagi Tuhan yang lazim di daerah-daerah Semit dimana Abraham bertualang.[22] Ia menamakan anaknya dengan nama “Ismael” dari kata Yishma (mendengar) dan El. Bahkan Hagar, seorang budak asal Mesir yang diusir oleh Sara, sempat memberi nama El-Roi kepada Tuhan yang telah menolongnya dalam perjalanan pahitnya bersama Ismael, serta memberi nama tempat itu Lahai-Roi.[23]
Mark S. Smith menuliskan bahwa El adalah nama Tuhan yang pertama dikenal oleh Israel. Ada dua hal yang mendukung hal ini: Pertama, nama Israel yang tidak Yahwistik, melainkan merupakan nama El. Kedua, Kejadian 49:24-25 menyebutkan nama El dalam beberapa seri terpisah dari YHWH pada ayat 18.[24]
Pendapat ini didukung oleh Harold H. Rowley. Menurut Rowley, orang Israel pada zaman kemudian membayangkan leluhur mereka sebagai penyembah YHWH seperti mereka sendiri, dan menyangkal bahwa nenek moyang mereka menyembah YHWH, sekiranya memang mereka menyembah Dia.[25]
Kompleksnya pemahaman monoteisme yang berkembang pada masa Abraham membuat kita sulit menyimpulkan secara seragam bagaimana konsep monoteisme Abrahamik. Dapat dikatakan bahwa monoteisme Abrahamik adalah monoteisme sederhana yang tidak serumit yang dikenal kemudian oleh Musa dan generasi berikutnya. Gambaran Taurat tentang monoteisme Abraham pun tidaklah secara riil mewakili pemahaman Abraham kuno, sebab bagaimanapun, pemahaman Taurat sudah mendapat pengaruh dari pemikiran teologi para nabi.
Namun, apakah logis untuk mengatakan bahwa monoteisme telah dikenal dalam sistem masyarakat kuno? Ataukah Abraham adalah yang pertama mengenal monoteisme? Bagaimana dengan Adam atau generasi-generasi sebelum Abraham?
Stephen Langdon, seorang arkeolog dari Oxford University, dalam Semitic Mythology dan Field Museum-Oxford University Expedition to Kish menjelaskan bahwa peradaban awal manusia dimulai dengan monoteisme yang kemudian bergeser ke politeisme. Ia menemukan dalam inskripsi-inskrispi kuno Babilonia, bukti-bukti yang menyatakan bahwa orang-orang terdahulu telah menyembah Tuhan yang Esa.[26] Wilhelm Schmidt dalam The Origin of the Idea of God dan Origin and Growth of Religion – Facts and Theories juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia menjadi politeisme.[27]
Dua pendapat ini sebetulnya tidak cukup memuaskan untuk menjawab pertanyaan mengenai Abraham tersebut, sebab Abraham hidup pada era politeisme bukan monoteisme. Boleh jadi apa yang diduga oleh Armstrong adalah benar.
...sering kita asumsikan bahwa ketiga patriarkh Israel —Abraham, putranya Ishak, dan cucunya Yakub— adalah monoteis, bahwa mereka beriman kepada hanya satu Tuhan. Keadaannya barangkali tidak demikian. Bahkan mungkin lebih akurat untuk menyebut orang-orang Ibrani awal ini adalah kaum pagan yang banyak memiliki kesamaan kepercayaan keagamaan dengan tetangga mereka di Kanaan. Mereka mungkin sekali juga meyakini eksistensi sesembahan, seperti Marduk, Baal, dan Anat. Mungkin pula tidak semua mereka menyembah ilah yang sama: barangkali Tuhan Abraham adalah “Takut” [Yang Disegani] atau “Saudara Sesuku”, Tuhan Ishak adalah “Yang Perkasa”, dan Tuhan Yakub adalah tiga Tuhan yang berbeda.[28]
S.H. Hooke, sebagaimana dikutip oleh Vriezen, beranggapan bahwa dalam sejarah Israel telah terjadi perkembangan tiga agama. Maksudnya, kita tidak bisa mengklaim bahwa agama para leluhur adalah agama yang sama yang dianut oleh Israel kuno yang menetap di Kanaan dan Israel yang keluar dari Mesir.[29]
Sangat dimungkinkan bahwa perbedaan agama merupakan perbedaan konsepsi tentang Tuhan. Perbedaan konsepsi dapat saja secara mendasar, misalnya antara politeisme dan monoteisme, namun bisa juga hanya pada cara pengenalan terhadap Tuhan yang sama.
Bagi saya, jika kita harus diperhadapkan pada pertanyaan akademis soal Abraham dan monoteismenya, maka mengatakan Abraham telah mengenai monoteisme ataupun sebaliknya, bahwa ia belum mengenal monoteisme, sama-sama merupakan pernyataan akademis yang lemah. Namun, jika harus memilih, maka saya lebih cenderung pada argumen bahwa Abraham sudah mengenal monoteisme, berangkat dari tradisi Abrahamik itu sendiri.
Monoteisme Abraham dapat kita lihat dari kesejajaran antara kisah Taurat dan asumsi historis. Kesejajaran yang dapat kita tarik dari kisah Taurat dan asumsi historis adalah pengenalan Abraham akan monoteisme merupakan sebuah pergulatan teologis dalam diri Abraham. Ia berhadapan dengan kuatnya tekanan politeistik, keingintahuannya tentang monoteisme, serta hipotesa yang ada di pikirannya. Dalam pergulatan itu, Abraham mencapai suatu kesimpulan bahwa Tuhan hanya satu. Namun, tidak begitu jelas apakah ia meniscayakan eksistensi ilahi yang ada pada bangsa-bangsa lain, ataukah ia tetap menerima mereka sebagai ilah lain selain El.
[1] Kejadian 22:1-19
[2] Bisa jadi Abraham sedang mengalami kegelisahan pikiran antara mengikuti tradisi pagan dan meyakini hasil pengembaraan spiritualnya, sebab tradisi mempersembahkan anak sebagai kurban merupakan tradisi agama-agama pagan sejak zaman dulu.
[3] Abram adalah nama Abraham sebelum menjadi Abraham, namun dalam Tenakh, nama “Abraham” lebih dikenal dan dianggap diberikan oleh Tuhan (Keluaran 17:5)
[4] Leo Trepp, A History of the Jewish Experience: Eternal Faith, Eternal People, New York: Behrman House, Inc., 1973, hlm. 131
[5] Keluaran 17:5
[6] Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003, hlm. 104
[7] Vriezen, ibid., hlm. 104-105
[8] Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, hlm. 43-45
[9] Beberapa penulis menyebutnya dewa, namun menurut saya ini adalah sebuah bentuk arogansi agama-agama wahyu yang kurang menghargai agama-agama yang dianggap ‘pagan’
[10] “Ancient Mesopotamia” dalam Situs CCAT, http://ccat.sas.upenn.edu/rels/2/lectures/lecture3.html, Maret 2004
[11] Ibid.; baca juga Wahono, op. cit., hlm. 79-81 dan 85-89
[12] “The Enuma Elish The Babylonian Creation Myth” dalam Situs Christian Resource Institute, http://www.cresourcei.org/enumaelish.html, Maret 2004
[13] Beberapa ahli keberatan untuk mengatakan bahwa penggunaan kata “Kami” itu adalah pengaruh politeisme, menurut mereka, penggunaan kata “Kami” hanyalah sebuah bias bahasa. Beberapa ahli lainnya justru mengatakan itu sebagai bentuk pengesahan PL terhadap konsep Trinitas, misalnya pandangan R. Soedarmo (R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, hlm. 107). Padangan yang kedua ini terlalu dipaksakan untuk bisa diterima sebagai sebuah konsep dogma
[14] Kata “Mesopotamia” sendiri berarti “daerah di antara dua sungai”
[15] Sedikit gambaran mengenai Mesopotamia dapat dibaca juga dalam Wahono, op. cit. Dan W.S. LaSor, Pengantar Perjanjian Lama I: Taurat dan Sastra, terj. Werner, et. al., Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 139-140, 142-144
[16] Ada penelitian yang mengatakan bahwa di Mesopotamia kuno telah berkembang monoteisme (Henry H. Halley, Halley's Bible Handbook, Michigan: Zondervan Publishing, 1965, hlm. 62)
[17] Kata “Ibrani” berasal dari kata “Ivrit” dalam bahasa Ibrani berarti “menyeberang” lihat Trepp, op. cit., hlm. 7
[18] Trepp, op. cit., hlm. 5
[19] Trepp, op. cit., hlm. 8
[20] H.H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, terj. I.J. Cairns, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hlm. 9
[21] Keluaran 3:6
[22] Rowley, op.cit., hlm. 7
[23] Kejadian 16:13-14
[24] Mark S. Smith, The Early History of God: Yahweh and the Other Deities in Ancient Israel, San Fransisco: Harper & Row Publishers, 1990, hlm. 7
[25] H.H. Rowley, op.cit., hlm. 6-7
[26] Halley, op. cit., hlm. 62
[27] Halley, ibid. Lihat juga Karen Armstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4000 Tahun, Bandung: Mizan, 1993, hlm. 27
[28] Armstrong, ibid., hlm. 41
[29] Vriezen, op. cit., hlm. 2-3
