Kamis, 04 Juni 2009

Pendidikan Yahudi

Dalam sebuah perjalanan ke Betlehem, Yerome, seorang ahli sejarah dari abad keempat sangat kagum melihat anak-anak Yahudi di daerah itu. Kekagumannya terutama adalah karena pengetahuan anak-anak Yahudi yang luar biasa terhadap Kitab Suci. Mereka menghafal betul sejarah dari Adam sampai Zerubabel.

Kekaguman yang sama muncul pada era 40-an. Sebuah bangsa yang terserak itu tiba-tiba lahir sebagai sebuah negara merdeka dengan sistem pertanian paling canggih di Timur Tengah dan menguasai perekonomian dunia. Bahkan, negara sekaliber Amerika Serikat, sanggup mereka taklukkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Apa yang melatarbelakanginya? Salah satunya adalah sistem pendidikannya yang luar biasa. Sejak zaman Musa, tradisi mendidik anak sudah menjadi tradisi keagamaan Yahudi (Ul. 6:4-9), dan tradisi itu, bukan sekedar dipelihara, tetapi juga dikembangkan. Mereka tidak segan-segan meniru sistem pendidikan pagan dan memadukannya dengan sistem pendidikan di Bait Allah yang berorientasi kepada TUHAN.

Sebuah traktat yang berasal dari koleksi tulisan rabinik (Mishna) Yahudi berasal dari abad pertama bertuliskan, “Pada umur lima tahun (seorang anak disiapkan untuk mempelajari) Kitab Tora; sepuluh tahun untuk Tora Lisan (Oral Tora); tiga belas tahun untuk Bar Mitswa; lima belas tahun untuk halakhot (keputusan rabinik yang bersifat legal); delapan belas tahun untuk pernikahan; dua puluh tahun untuk mencari kerja; tiga puluh tahun untuk memasuki masa dewasa penuh.”

Pendidikan merupakan hal yang sangat dihargai di kalangan Yahudi bahkan sebelum berkembangnya filsafat-filsafat modern di Yunani. Karena itu, wajar jika Yosefus, seorang sejarahwan Yahudi dari abad pertama, dalam bukunya berjudul Melawan Apion mengatakan, “Di atas semuanya itu, kita patut bangga atas diri kita karena pendidikan kita terhadap anak-anak kita, dan penghargaan kita atas tugas esensial dalam kehidupan kita, menanamkan hukum dan perbuatan-perbuatan mulia berdasarkan semuanya itu, dan itu telah mengakar dalam masyarakat kita.”

Sistematika pendidikan di kalangan Yahudi sejak zaman dulu memang luar biasa, di dalam Talmud dijumpai perkataan berikut, “Jumlah maksimal murid-murid dasar yang harus diajar oleh seorang guru adalah dua puluh orang; jika ada lima puluh murid, haruslah disediakan seorang guru tambahan; jika ada empat puluh murid, seorang murid senior haruslah menjadi asisten sang guru” (Bava Batra).

Pada abad pertama Masehi, setiap sinagoge memiliki Beth Sefer (sekolah dasar) dan Beth Midrash (sekolah lanjutan)-nya sendiri-sendiri. Murid-murid diajarkan untuk menguasai Tora dan tradisi-tradisi lisan. Biasanya, pendidikan formal baru berakhir pada usia dua puluh atau tiga puluh tahun. Namun, beberapa pelajar yang dianggap mendapat karunia tertentu akan tetap melanjutkan pendidikannya di Beth Midrash. Biasanya merekalah yang kelak menjadi seorang Rabbi.

Orang mungkin berpikir bahwa sinagoge adalah tempat beribadah, dimana ibadah (dalam arti ritual) lebih penting dari segalanya. Kenyataannya tidak demikian, dalam tradisi Yahudi, pendidikan dan ibadah tidak dipisahkan. Keduanya dianggap sama sederajat, bahkan dalam sebuah Talmud Babilonia disebutkan bahwa belajar Tora merupakan bentuk ibadah yang paling tinggi.

Karena itu, merupakan hal yang wajar jika di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, seorang guru dihormati sederajat dengan seorang imam. Itulah yang juga menjadikan Ahli Tora, kalangan Ferushim, dan kalangan Tsadukim menjadi sangat populer pada zaman Yesus. Yesus sendiri, menjadi sosok yang sangat dikagumi salah satunya karena ia adalah seorang Rabbi.

Hal positif yang dapat kita ambil dari tradisi pendidikan Yahudi adalah: Pertama, anggapan bahwa pendidikan itu setara dengan ibadah; Kedua, moral yang baik dianggap sebagai buah dari pendidikan yang matang (band 1Ptr. 1:5-7); Ketiga, pendidikan keluarga sebagai awal pendidikan; Keempat, pembekalan anak secara sistematis; Kelima, keyakinan bahwa bukan kemampuan manusia yang dapat menggali kedalaman ilmu, tetapi ALLAH yang menyatakannya dalam banyak cara, dan tugas manusia adalah mencari tahu penyataan itu; Keenam; sistem pendidikan itu sendiri yang berlangsung secara dinamis serta terbuka terhadap dunia luar.

Poin-poin ini mesti diperhatikan ketika kita membangun sebuah sistem pendidikan anak muda dalam gereja. Hal ini penting mengingat anak muda Kristenlah yang kelak akan menentukan masa depan gereja itu sendiri. []

2 komentar:

Lencana Facebook