Asal nama YHWH merupakan polemik yang cukup panjang di kalangan para teolog. Von Bohlen dalam bukunya berjudul Genesis mengatakan bahwa nama Yahweh diadopsi oleh orang Yahudi dari bangsa Kanaan. Pendapat von Bohlen ini didukung oleh Von der Alm (Theol. Briefe, I, 1862, hlm. 524-527), Colenso (The Pentateuch, V, 1865, hlm. 269-284), dan Goldziher (Der Mythus bei den Hebräern, 1867, hlm. 327). Namun, kemudian ditentang oleh Kuenen (“De Godsdienst van Israel”, I, Haarlem, 1869, hlm. 379-401) dan Baudissin (Studien, I, hlm. 213-218). Alasannya sangat sederhana bahwa mustahil nama ilah sebuah bangsa yang menjadi musuh bebuyutan kemudian diadopsi menjadi nama yang sangat mendominasi Yudaisme kemudian.
Vatke (Die Religion des Alten Test., 1835, hlm. 672) dan J.G. Müller (Die Semiten in ihrem Verhältniss zu Chamiten und Japhetiten, 1872, hlm. 163) kemudian memberi pendapat yang berbeda. Keduanya berpendapat bahwa nama Yahweh berasal dari Indo-Eropa (Dyaus). Pendapat ini tidak dapat diterima oleh banyak pakar dan dianggap merupakan suatu bentuk pemaksaan istilah.
Pendapat yang kemudian banyak dipegang adalah bahwa nama Yahweh berasal dari Mesir. Pendapat ini banyak didukung oleh para sarjana sebab Musa sendiri merupakan seorang pemimpin Ibrani yang tumbuh dan dididik di Mesir. Namun, argumen-argumen yang diberikan masih banyak diragukan:
· Röth (Die Aegypt. und die Zoroastr. Glaubenslehre, 1846, hlm. 175) mengatakan bahwa nama itu berakar dari nama dewa bulan Mesir Ih atau Ioh.
Pierret (“Vocabul. Hiérogl.”, 1875, hlm. 44) menolak argumen ini dengan mengatakan bahwa tidak ada hubungannya antara dewa bulan Mesir dengan Yahweh Ibrani.
· Plutarch (De Iside, 9) mencoba membuktikan dengan ditemukannya sebuah patung Athene (Neith) di Sais dimana terdapat sebuah inskripsi bertuliskan “Aku adalah segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan ada.” Argumen ini pun dibantah oleh Tholuck (Vermischte Schriften, I, hlm. 189-205). Menurut Tholuck, arti dari inskripsi tersebut berbeda dengan arti nama Yahweh.
· Kalimat kuno Mesir, “nuk pa nuk” juga dijadikan argumen karena memiliki kemiripan dengan kalimat “ehye asher ehye” dalam Bahasa Ibrani. Namun, argumen ini juga dianggap lemah sebab menurut Le Page Renouf (Hibbert Lectures for 1879, hlm. 244), istilah nuk pa nuk sebenarnya berarti “Ini adalah aku yang...”
Pendapat lain yang juga dibantah adalah pendapat bahwa nama YHWH berasal dari Kaldea atau Akkadian:
· Menurut Delitzsch (“Wo lag das Paradies”, 1881, hlm. 158-164), Yahweh dikatakan merupakan nama penting dewa nasional. Nama dewa itu adalah Yahu atau Yah, dimana huruf i menjadi elemen penting pada nama itu. Pendapat ini disangkal dengan alasan bahwa Yah hanyalah sebuah nama puitis bagi Yahweh dalam alkitab, sementara Yahu tidak pernah muncul dalam Alkitab. Kata Yahu justru muncul dalam inskripsi Mesa (baris 18) yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 SM.
· Yahu dan Yah sangat dikenal di luar Israel, sehingga ada dugaan bahwa nama Yahweh diadopsi dari kedua nama itu. Menurut Schrader (“Bibl. Bl.”, II, p. 42, 56), Sargon (“Cylinder”, xxv) dan Keil (“Fastes”, I. 33), variasi nama Raja Hammath menunjukkan bahwa Ilu sama dengan Yau, dan bahwa Yau adalah nama dewa. Pembuktian ini sulit diterima sebab nama-nama asing yang mengandung nama dewa itu sangat diragukan, apalagi menggunakan nama dewa dianggap pelecehan bagi kebanyakan bangsa asing.
· Delitzsch (“Lesestücke”, 3rd ed., 1885, hlm. 42) dan Syllab (A, col. I, 13-16) kemudian mengatakan bahwa di antara masyarakat Babilonia pra-Semitik, i merupakan singkatan dari Ilu, dewa tertinggi. Pada periode Assyria menjadi Yau. Hommel (Altisrael. Ueberlieferung, 1897, hlm. 144, 225) sangat yakin dengan argumen ini dan mengatakan bahwa Yau adalah dewa yang mewakili ideografis (ilu) A-a, tapi diucapkan Malik, yang merupakan bentuk ekspresi yang seharusnya dibaca Ai atau Ia (Ya). Para bapak leluhur mengembangkan nama ini dan Musa meminjam kemudian mentransformasikan nama itu menjadi Yahweh. Pendapat ini dibantah oleh Lagrange (Religion semitique, 1905, hlm. 100 dyb). Ia menggarisbawahi bahwa orang-orang Yahudi tidak percaya bahwa mereka menyerahkan anaknya kepada Yahweh sama seperti menyerahkan kepada Malik. Yer. 32:35 dan Sof. 1:5 dengan tegas membedakan antara Malik dengan Allah Ibrani.
Pandangan bahwa nama YHWH murni berasal dari tradisi Ibrani merupakan pandangan yang dianggap paling memuaskan. Para ahli, seperti Nicholas Lyra, Tostatus, Cajetan, Bonfrère, dsb, menjadikan Kel. 6:2-8 sebagai dasar pemikiran mereka. Menurut mereka, nama YHWH pertama kali digunakan oleh Musa di Gunung Horeb.
Pendapat ini diragukan oleh Robion (“la Science cathol.”, 1888, hlm. 618-24), Delattre, van Kasteren, dan Robert (“Revue biblique”, 1894, pp. 161-81). Menurut mereka, frase “belum menyatakan diri” dalam Kel. 6:3 bukan berarti bahwa nama itu belum digunakan. Maksud ayat tersebut bahwa YHWH belum menyatakan makna dari nama itu kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Kepada Musalah makna nama itu dinyatakan.
Ada dugaan bahwa nama YHWH telah muncul jauh sebelum Musa namun dalam bentuk yang berbeda. Di Gunung Horeblah bentuk akuratnya menjadi jelas.
· Kej. 4:26 mengatakan bahwa manusia mulai memanggil nama YHWH pada periode Enos.
· Yokhebed, ibu Musa, menggunakan singkatan Yo dari YHWH.
· Ada 163 nama diri yang menggunakan elemen nama YHWH dalam komposisi nama mereka, 48 menggunakan yeho atau yo di awal nama, sementara 115 menggunakan yahu atau yah di akhir nama mereka, sedangkan bentuk Yahweh tidak ditemukan sama sekali. Karena itu, ada dugaan bahwa bentuk Yeho, Yo, Yahu, dan Yah adalah nama ilahi yang pernah eksis di kalangan Israel sebelum bentuk YHWH itu muncul.
Kel. 6:2-8 kemungkinan merupakan jawaban Allah atas pergumulan Musa dalam Kel. 3:13. Persoalannya, dalam Kel. 3:14 dan 15, Allah memperkenalkan diri dengan tiga nama penting untuk satu pertanyaan Musa “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?”:
1. `HYH `SHR `HYH (אהיה אשׁר אהיה) diterjemahkan “AKU ADALAH AKU” (ehye asher ehye) merupakan jawaban Allah pertama ketika Musa menanyakan nama-Nya. Bentuk kalimat ini tidaklah sempurna, secara harafiah berarti “ADA/BERADA/ADALAH (ehye) YANG/YAITU/SEBAB (asher) ADA/BERADA/ADALAH (ehye).” Hanya beberapa ahli yang mengakui bahwa itu adalah nama Allah yang sebenarnya.
2. `HYH (אהיה) diterjemahkan “AKULAH AKU” (ehye), bentuknya sama dengan yang pertama, semestinya berarti “ADA/BERADA/ADALAH.” Kata `HYH muncul sebanyak 1961 kali dalam PL dan diterjemahkan “AKU ADALAH” hanya dalam Kel. 3:14 ini, karenanya terkesan dipaksakan untuk diterjemahkan.
3. YHWH (יהוה) muncul sebanyak 5000 kali dalam PL dan tidak pernah diterjemahkan. Tradisi Ibrani menolak untuk menyebutkan nama suci ini, sehingga ketika Bahasa Ibrani tidak lagi menjadi lingua franca, cara penyebutan YHWH pun dilupakan. Kaum Masoret pernah mencoba memasukkan vokal Adonai ke dalam YHWH sehingga muncul penyebutan Yahowah, namun model ini tidak banyak digunakan. Bapak-bapak gereja sendiri berbeda pendapat mengenai penyebutan tersebut, setidaknya ada sebelas bentuk yang bisa dikemukakan:
- Diodorus Siculus menulis Yao (I, 94);
- Irenaeus (“Adv. Haer.”, II, xxxv, 3, dalam P. G., VII, kol. 840), Yaoth;
- Kelompok Valentinian (Ir., “Adv. Haer.”, I, iv, 1, dalam P.G., VII, kol. 481), Yao;
- Clement dari Aleksandria (“Strom.”, V, 6, dalam P.G., IX, kol. 60), Yaou;
- Origenes (“in Joh.”, II, 1, dalam P.G., XIV, kol. 105), Yao;
- Porfyrus (Eus., “Praep. evang”, I, ix, dalam P.G., XXI, kol. 72), Yeuo;
- Epifanius (“Adv. Haer.”, I, iii, 40, dalam P.G., XLI, kol. 685), Ya atau Yabe;
- Pseudo-Yerome (“Breviarium in Pss.”, dalam P.L., XXVI, 828), Yaho;
- Kaum Samaritan (Theodoret, dalam “Ex. quaest.”, xv, dalam P. G., LXXX, kol. 244), Yabe;
- James dari Edessa (band. Lamy, “La science catholique”, 1891, hlm. 196), Yehyeh;
- Yerome (“Ep. xxv ad Marcell.”, dalam P. L., XXII, kol. 429) menolak mereka yang menulis nama ilahi dengan penulisan II I II I.
Kaum Samaritan yang menyebut Yabe dianggap mendekati keasliannya sehingga vokalnya kemudian diambil dan muncullah Yahweh yang banyak digunakan sampai sekarang.
Upaya melacak kembali penyebutan nama YHWH merupakan upaya yang sudah lama berkembang baik di kalangan Yahudi maupun di kalangan Kristen. Banyak sarjana tidak lagi mempersoalkan hal ini dan lebih memilih untuk bertahan dengan sebutan Yahweh. Sebagian lagi menggunakan YHWH tanpa memasukkan vokal. Umumnya justru mengikuti tradisi Yahudi yang tidak menyebutkan nama itu bahkan tidak menyalinnya ke dalam bentuk lain (tetap mempertahankannya dalam teks Ibrani).
Para teolog kontemporer justru memilih untuk melihat esensi nama itu tanpa mempersoalkan penyebutan dan penulisannya. Menurut Robion, Delattre, van Kasteren, dan Robert makna penting di balik nama YHWH itu dapat dilihat dalam Kel. 6:2-8, dimana Allah dengan tegas menyatakan esensi dari nama itu. Menurut mereka, pada zaman para leluhur, Allah telah menyatakan diri sebagai Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang Maha Tinggi, Elohim Tseva’oth (Allah Bala Tentara/Allah Yang Perkasa), maka kepada Musa, Allah menyatakan diri sebagai Allah Perjanjian, Allah yang senantiasa memegang janji-Nya, baik janji kepada para leluhur (Abraham, Ishak, dan Yakub), janji kepada Musa, maupun janji kepada keturunannya atau janji kepada umat-Nya.
Furst (“Vet. Test. Concordantiae”, Leipzig, 1840) melacak dari akar kalimat `HYH `SHR `HYH (ehye asher ehye) dan menyebut bentuk ini sebagai forma participialis imperfectiva, artinya YHWH adalah bentuk imperfek dari kata kerja “ada” dalam Bahasa Ibrani yang secara esensi menyatakan YHWH sebagai Sang “Being”. Kaum skolastik mengartikan YHWH dalam makna yang lebih dalam dengan mengatakan bahwa YHWH hanya bisa didefinisikan dengan being, murni dan sederhana, tidak lebih dan tidak kurang; bukan being abstrak yang lazim bagi semuanya, dan karakteristik ketiadaan dalam partikular, melainkan being absolut, samudera segala being yang substansial, bebas dari segala kausa (penyebab), tidak mungkin berubah, melampaui segala batas waktu, sebab Ia tidak berbatas: “Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir,... yang Ada, telah Ada, dan akan Ada, Yang Maha Kuasa” [(Apoc., i, 8). band. St. Thomas, I, qu. xiii, a. 14; Franzelin, “De Deo Uno” (3rd ed., 1883, thesis XXIII, pp. 279-86)].
Intinya bahwa Allah telah menyatakan diri dalam banyak nama, masing-masing nama memiliki makna yang sangat esensial. Ia tidak terikat oleh sebuah nama sebab Ia tidak bisa dibatasi oleh apapun juga. Nama-nama Allah, selain mencerminkan makna yang esensial, juga menunjukkan karya Allah di dalam sejarah keselamatan manusia. Ia menyebut Elohim karena karya Kemahakuasaan-Nya, YHWH karena Kekekalan janji dan karya-Nya. Jadi, bukan komposisi huruf yang menyusun nama Allah yang penting, melainkan makna dibalik nama itu sendiri. []