Sabtu, 18 Juli 2009

Hikmat dan Pengertian (Amsal 4:7)


Amsal ini berbicara tentang apa yang terutama yang harus kita peroleh dalam hidup ini, sekaligus rahasia bagaimana memahami setiap rancangan TUHAN dalam hidup ini.

Pada bagian pertama dikatakan “reshith khokhma qene khokhma.” Kalimat ini bisa berarti “yang pertama dari hikmat adalah perolehlah hikmat!” (band. terjemahan TB-LAI). Artinya, hikmat (khokhma) hanya bisa diperoleh dengan jalan memperoleh hikmat itu sendiri. Tidak ada cara lain selain memintanya kepada TUHAN.


Namun, kalimat ini juga bisa berarti “hikmat adalah yang pertama: perolehlah hikmat!” (band. terjemahan KJV dan NIV). Artinya, hikmat adalah yang terutama (KJV: principal; NIV: supreme) dalam hidup ini. Setiap orang dapat memperoleh hikmat, dan hikmat adalah kekuatan pertama yang diberikan TUHAN kepada manusia untuk bisa memahami wahyu dan ilham TUHAN.

Dari dua pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa untuk memahami setiap rancangan TUHAN, hal pertama dan yang terutama yang harus kita miliki adalah hikmat yang dari TUHAN.

Rancangan TUHAN tidak bisa kita tafsirkan menurut pikiran kita sendiri, sebab rancangan TUHAN adalah rancangan yang melampaui kemampuan berpikir kita.

Jadi, apakah itu berarti kita harus meniscayakan pikiran kita dalam menjalani hidup ini?

Tidak! Ayat ini tidak berhenti sampai di situ saja. Kelanjutannya berbunyi, “uvekhol-qinyankha qene vina.” Artinya, “dan dengan semua yang engkau peroleh, perolehlah pengertian.”

Kata “pengertian” di sini menggunakan kata “vina” yang berasal dari kata “bin,” yaitu segala kemampuan pikiran kita untuk mengelola informasi yang diterima. Karena itu, sering diartikan juga “pemahaman, pertimbangan, kehati-hatian, perhatian dan pengetahuan.”

Artinya, “bin” terfokus pada kekuatan analisa pikiran kita, dan kita tidak bisa memungkiri bahwa hidup kita lebih banyak dikendalikan oleh pikiran kita. Pikiran kita dapat membentuk diri kita menjadi siapa kita. Orang yang baik sekalipun, jika memiliki pikiran yang jahat, dapat berubah menjadi penjahat. Demikian juga sebaliknya.

Kita dapat mengubah prilaku orang yang jahat, apabila kita bisa menanamkan kebaikan dalam pikirannya. Itulah sebabnya, kita harus terus-menerus mendoktrin pikiran kita dengan nilai-nilai positif. Dengan demikian, apapun yang kita alami, kita akan mengalaminya dalam sukacita. Amin! [oyr79]

* ditulis untuk bahan warta GKA Kelapa Gading

1 komentar: